Blog Pernikahan Adat Minangkabau

Artis Marshanda Tampil Cantik Menawan Dalam Baju Busana Adat Minangkabau Ketika Pulang Kampung

Marshanda pulang kampung! Ikut dalam iring-iringan pada acara ”Baralek Gadang Batagak Pangulu”, akhir Februari di Tabek Sarojo, Bukittinggi, Sumatera Barat. Segera saja, kehadiran gadis kelahiran 10 Agustus 1989 ini menjadi perhatian masyarakat. Dia berada di Bukittinggi karena pamannya, Riyanto Sofyan, diangkat menjadi salah satu datuk pada acara tersebut, yaitu Datuk Pisang Ampek Nagari. Berbusana gadis Minang, sembari membawa nampan berisi keris dan peci datuk, Marshanda tersenyum meskipun ketegangan tergambar di rautnya. ”Menjadi deg-degan enggak karuan. Bayangin aja, sepanjang perjalanan di pesawat, aku sedikit tegang. Bagaimana hati enggak tegang campur deg-degan, itu kan tanah budaya leluhurku. Semua keluargaku, adik-adik, Mama, dan saudara-saudara yang lain sudah pernah mendatanginya. Cuma aku sendiri yang sama… Baca KelanjutannyaArtis Marshanda Tampil Cantik Menawan Dalam Baju Busana Adat Minangkabau Ketika Pulang Kampung

Jam Gadang Bukti Tinggi Mulai Miring dan Retak

Bangunan Jam Gadang di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat, yang terdiri atas lima lantai diketahui miring. Kemiringan terjadi di beberapa lantai dengan sudut deviasi mencapai dua derajat. Menurut Direktur Eksekutif Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Catrini P Kubontubuh, Rabu (10/3), data itu diperoleh berdasarkan pengukuran detail oleh tim ahli pada November 2009. Ia mengatakan, miringnya Jam Gadang yang baru diketahui setelah pengukuran detail dengan citra tiga dimensi dari alat pemindai laser itu belum membahayakan keutuhan bangunan dan keselamatan pengunjung. Kata Catrini, ambang batas toleransi sudut kemiringan bangunan adalah lima derajat. Ia memastikan, studi lebih komprehensif dengan melibatkan sejumlah ahli dalam bidang struktur bangunan, praktisi penguatan bangunan pasca-gempa, dan geolog akan dilakukan… Baca KelanjutannyaJam Gadang Bukti Tinggi Mulai Miring dan Retak

Legenda Sitti Nurbaya, Pusaka Ranah Minang yang Terabaikan

Sitti Nurbaya seperti dirundung duka tak berujung. Namanya sering hadir untuk menggambarkan cerita mellow anak manusia. Hal ini tergambar jelas seperti pada sebuah jembatan, taman, klub sepak bola, judul lagu, judul sinetron, bahkan nama kuburan. Sejak hadir dalam novel Marah Rusli, Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai, nama Sitti Nurbaya mampu merebut pembacanya. Lambat laun, kemudian menjelma menjadi pusaka budaya masyarakat Minangkabau. Di kawasan Kota Tua Padang, Sumatera Barat, kisah sedih Sitti Nurbaya jelas terbaca mata. Di kawasan ini melintang jembatan di Sungai (Batang) Arau yang masih terluka karena gempa akhir September 2009. Luka ini turut meredupkan api kehidupan warga sekitar. Jembatan berbentuk melengkung ini begitu indah sebelum gempa. Pada petang sampai… Baca KelanjutannyaLegenda Sitti Nurbaya, Pusaka Ranah Minang yang Terabaikan

Kreativitas Ranah Minang Melalui Pantun Minang pada Kaos

Kreativitas di Ranah Minang masih hidup. Meski berkali-kali diguncang gempa besar, semangat hidup warga tak runtuh. Mereka terus bangkit seraya menjunjung tradisi budaya lokal. Gambaran itu tertuang dalam pantun yang berbunyi; sakali aia gadang//sakali tapian barubah//nan aia, ka hilia juo//sakali balega gadang//sakali aturan batuka//nan adaik baitu juo. Terjemahan ringkasnya, apa pun yang terjadi, sekalipun ada bencana ataupun pergantian pemimpin, tradisi adat akan tetap terjaga. Hingga kini kekayaan tradisi lisan Minangkabau masih berkembang di tengah masyarakat turun-temurun. Sayangnya, pelestarian pantun cenderung kendur di sektor pendidikan. Para guru mulai jarang mengajarkannya di sekolah. Seorang Christine Hakim (53), perempuan Tionghoa, membangunkan ingatan urang awak. Dia tidak rela tradisi lisan Minang hilang oleh waktu. ”Tradisi… Baca KelanjutannyaKreativitas Ranah Minang Melalui Pantun Minang pada Kaos

Orang Rantai dari Tambang Batubara Sawah Lunto

MEMASUKI kota Sawahlunto, dari kota Padang, Anda akan melihat kota mungil ini dikelilingi bukit. Setelah melalui jalanan menanjak kemudian jalanan turun, maka tampaklah Kota Tambang itu di bawah. Kota seluas sekitar 274 km2 ini dihuni sekitar 53 ribu penduduk. Kota ini pernah ditinggalkan penduduk, yang kebanyakan penambang, kala persediaan batubara di kota ini menipis. Itu terjadi di awal tahun 2000. Kini kota ini mulai menggeliat setelah Wali Kota Amran Nur berkomitmen merevitalisasi kota lama Sawahlunto seluas sekitar 6 km2 beserta bangunan tua dan peninggalan atau pusaka dari zaman kolonial. Salah satu peninggalan Belanda di Sumatra Barat yang sekitar dua tahun lalu ditemukan dan langsung dibenahi demi meningkatkan wisata bekas kota tambang… Baca KelanjutannyaOrang Rantai dari Tambang Batubara Sawah Lunto

Keindahan Batik Minangkabau Nan Langka

Tenunan berbenang emas yang cantik (kain balapak) sudah merupakan ciri khas pakaian adat Minangkabau. Keindahannya sering kali di nilai dengan “barek” atau seberapa berat kain tersebut. Karena memang kain tenun berbenang emas tersebut cukup berat bila di kenakan. Namun tidak banyak yang tahu bahwa Minangkabau mempunyai tenunan khas berupa batik yang tidak kalah indahnya. Batik Minangkabau ini disebut batik tanah liek, karena batik yang asalnya dari Minangkabau ini salah satu pewarnanya adalah tanah  liek,  yaitu tanah liat. Bila dilihat dari bahan pewarna yang digunakan dan cara pembuatan, teknologi pembuatan batik tanah liet ini merupakan teknologi tertua dalam pembuatan batik di Indonesia. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina. Nenek moyang… Baca KelanjutannyaKeindahan Batik Minangkabau Nan Langka

Mengenang Kota Padang Tempo Dulu

SUNGAI Batang Arau di Padang, Sumatera Barat, mengalir di kawasan Kota Lama Padang. Di sinilah kawasan pusat niaga Kota Padang ketika Belanda masih bercokol di Sumatra Barat. Maka kawasan ini menjadi salah satu tujuan yang menarik bagi pendatang, selain menyawang berbagai bangunan tua bergaya kolonial, campuran Tionghoa, bahkan perpaduan India (Keling), juga menikmati pemandangan sekitar kota Padang. Di kawasan Kota Lama ini, jalur kereta api pertama, bersama stasiunnya, masih bisa dilihat. Jalur kereta api Pulau Aie (Pulau Air) menghubungkan Pulau Air (Padang) ke Padang Panjang sepanjang 71 km. Jalur ini kelar dibangun pada 1891 dan menjadi jalur utama perdagangan di Padang. Sejak 1980-an jalur ini berhenti beroperasi. Rel masih bisa dilihat… Baca KelanjutannyaMengenang Kota Padang Tempo Dulu