Blog Pernikahan Adat Minangkabau

Pernikahan Chairani Putri Yusuf Kalla Dilakukan Dengan Adat Minangkabau

Netty Wedding Organizer yang ditunjuk mewakili keluarga Jusuf Kalla mengurus pernikahan putri bungsu Kalla, Chairani Jusuf, dengan Marah Laut C. Noer, mengaku menyiapkan prosesi istimewa untuk acara sakral itu. “Akan ada upacara Malam Bainah yang merupakan prosesi adat Minangkabau. Pada malam ini, ada acara pelepasan masa gadis atau lajang dan malam persiapan sebelum pernikahan,” katanya ketika dihubungi Selasa, 20 Agustus 2013. “Ibu Mufidah dan keluarga menantikan Malam Bainah yang akan diadakan Jumat, 23 Agustus 2013. Sudah lama mereka menaruh harapan kepada putri bungsunya. Syukurlah jodoh Ade sudah datang,” lanjutnya kembali. Tim Wedding Organizer yang ditunjuk dan dipercaya keluarga Jusuf Kalla karena pengalaman menangani pernikahan adat Minangkabau. Secara harfiah, Bainah artinya melekatkan… Baca KelanjutannyaPernikahan Chairani Putri Yusuf Kalla Dilakukan Dengan Adat Minangkabau

Keberadaan Aksara Asli Minangkabau Perlu Ditelusuri Keberadaannya

Keberadaan aksara asli Minangkabau, yang merupakan perpaduan antara huruf Sanskerta dan aksara Arab kuno, tidak diketahui lagi. Ketidaktahuan itu disebabkan tidak ada lagi naskah-naskah kuno yang tersisa dengan tulisan dalam aksara asli Minangkabau. Kepala Taman Budaya Provinsi Sumbar Asnam Rasyid, Minggu (5/9), mengatakan, selama ini yang cenderung diketahui masyarakat adalah aksara Arab gundul dan huruf Sanskerta. ”Kalau yang saya ketahui di Sumatera Barat, ya, huruf Arab buta atau gundul,” kata Asnam. Pengajar pada Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, Dr Herwandi, pada hari yang sama mengatakan, persoalan yang dihadapi ialah ketiadaan bukti naskah yang ditulis dalam aksara asli Minangkabau itu. Herwandi, yang pernah melakukan penelitian soal goresan serupa tulisan di Batu Batulih… Baca KelanjutannyaKeberadaan Aksara Asli Minangkabau Perlu Ditelusuri Keberadaannya

Desain Arsitektur Rumah Gadang Minangkabau

Arsitektur rumah tradisional di sepanjang pantai barat Sumatera memperlihatkan pergeseran unik. Jika diurut dari Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, hingga ke Sumatera Barat, bentuk atap rumah itu berubah: dari mendatar, agak melekuk, sampai melengkung sekali. Pemandangan itu menarik perhatian kami saat menyusuri kawasan pantai barat Sumatera dengan perjalanan darat, awal Mei lalu. Bangunan tradisional itu terbuat dari kayu tenam atau meranti atau ulin. dengan struktur berbentuk panggung. Sebagian rumah masih utuh. Kita mulai saja dari Liwa, Lampung Barat. Rumah tradisional di kawasan ini berbentuk datar dan terdiri dari empat sisi: bagian depan, belakang, samping kiri, dan samping kanan. Wuwungan atau bagian lancip atap terbentang lurus dari kiri ke kanan. Atap itu terbuat… Baca KelanjutannyaDesain Arsitektur Rumah Gadang Minangkabau

Pameran Wedding Pernikahan Kemilau Songket Minang

Kreativitas para perancang busana ternyata identik dengan keberuntungan. Tidak saja keberuntungan secara finansial yang diraih perancang dan perajin, tetapi juga keberuntungan bagi tumbuhnya sebuah kebudayaan. Secara sosial-ekonomi, industri tenun songket merupakan salah satu tulang punggung ekonomi rakyat yang cukup penting. Industri kecil masih tetap bertahan sebagai kegiatan ekonomi rakyat kecil.   Perancang busana Riny Suwardy, yang sudah 15 tahun berkutat dengan songket Minang, berharap industri ini bisa lebih menasional dan mendunia. Peragaan busana kebaya songket Minang bertajuk ”Kemilau Songket Padang” yang ditampilkannya di Bidakara Wedding Expo ke-5 di Jakarta, beberapa waktu lalu, misalnya, membuktikan harapan tersebut.  Perancang busana Riny Suwardy di Jakarta, pada acara Bidakara Wedding Expo 5, menampilkan busana kebaya… Baca KelanjutannyaPameran Wedding Pernikahan Kemilau Songket Minang

Bukittinggi Kota Wisata Yang Tanpa Perda Benda Cagar Budaya

Balai Pelestarian Peninggalan Pusaka (BP3) Batusangkar yang wilayah kerjanya mencakup Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau, mengungkapkan, Kota Bukittinggi memiliki 47 sumber daya budaya antaralain dalam bentuk bangunan pertahanan, perkantoran, permukiman, fasilitas umum, dan bangunan militer. “Tapi belum ada Perda kota, belum ada penetapan dari pemerintah kota. Nanti kalau ada bangunan bersejarah yang dirusak, sulit untuk menuntut. Karena belum ada ketentuan hukum yang sah,” tandas Kepala Kelompok Kerja Dokumentasi, Publikasi, dan Pengembangan BP3 Batusangkar, Teguh Hidayat, beberapa waktu lalu dalam Sosialisasi Rehabilitasi Jam Gadang di Bukittinggi. Ia menambahkan, dari kacamata BP3 Batusangkar, di Bukittinggi ada 47 bangunan yang berpotensi menjadi BCB (Benda Cagar Budaya). “Tapi tugas kita hanya mendorong daerah untuk… Baca KelanjutannyaBukittinggi Kota Wisata Yang Tanpa Perda Benda Cagar Budaya

Paris Van Sumatera – Kota Bukittinggi Yang Berawal Dari Pasar

Parijs van Sumatra adalah sebutan dua kota di Sumatera pada masa kolonial. Di pulau Jawa, Bandung-lah yang mendapat julukan Parijs van Java. Tak lain karena pemandangan nan indah, pegunungan, berkelok-kelok, dan cuaca yang sejuk. Di Pulau Sumatera, Medan (Sumatera Utara) dan Bukittinggi (Sumatera Barat) mendapat julukan seperti tersebut di atas. Kali ini, giliran Parijs van Sumatra yang di Bukittinggi. Kota dengan liukan pegunungan nan elok, pemandangan hijau royo-royo, ngarai, serta Tri Arga (tiga gunung) yaitu Gunung Merapi – gunung tertinggi di Sumatera Barat – Gunung Singgalang, dan Sago. Sebenarnya tak hanya tiga gunung itu yang mengelilingi Bukittinggi. Tapi ada 27 bukit lain yang membuat Bukittinggi begitu sejuk dan cantik. Istana Negara… Baca KelanjutannyaParis Van Sumatera – Kota Bukittinggi Yang Berawal Dari Pasar

Jam Gadang Bukit Tinggi Kini Tanpa Patung Hermes dan Harimau

London boleh bangga punya Big Ben, tapi Bukitinggi boleh lebih berbangga, tak hanya punya Jam Gadang (Jam Besar), tapi juga pemandangan alam yang tak terbandingkan. Tengok saja Ngarai Sianok, dengan Goa/Lubang Jepang-nya. Belum lagi sederet gunung yang melingkari kota ini. Sebagai tengara kota, Jam Gadang setinggi 26 meter ini dibikin oleh putera Bukittinggi, Yazid Sutan Gigiameh. Dari paparan tim Rehabilitasi Jam Gadang, disebutkan, Jam Gadang dibangun oleh opzichter (arsitek) bernama Yazid Abidin (Angku Acik) yang berasal dari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Jam yang merupakan hadiah Ratu Belanda kepada Controleur Oud Agam (sekretaris kota), HR Rookmaker, ini dibangun di “bukit tertinggi” (Bukik Nan Tatinggi) dan menghadap ke arah Gunung… Baca KelanjutannyaJam Gadang Bukit Tinggi Kini Tanpa Patung Hermes dan Harimau