Minangkabau Dalam Proses Pembangunan Sebuah Bangsa

Dalam visi tradisional Jawa, Jawalah yang merupakan pusat dunia. Selain Jawa adalah mancanegara dan tanah seberang, yang bukan saja dipenduduki oleh manusia kelas dua tetapi juga berperadaban rendah. Budaya politik Jawa berkisar pada konsep kekuasaan yang terpusat di ibukota (kultur politik otoritarian dan sentralistik). Sangatlah berbeda dengan budaya politik Minangkabau bukan saja mendistribusikan kekuasaan tersebut pada mufakat kerapatan adat nagari dan suku tetapi sama sekali tidak berkeberatan dengan kemajemukan dan nyaman-nyaman saja dengan perbedaan pendapat. Sungguh akan sangat menarik untuk meneliti bagaimana persepsi dari penduduk mancanegara dan tanah seberang ini sendiri terhadap para penguasa Jawa ini, baik dari sejarah maupun dari mitologi mereka. Proses Pembangunan Bangsa Kesadaran akan Bangsa Soekarno dan… Baca KelanjutannyaMinangkabau Dalam Proses Pembangunan Sebuah Bangsa

Mengenang Kejayaan Pantai Barat Sumatera

Dalam konteks Indonesia, sejarah mencatat peranan penting laut sebagai kekuatan penggerak sejarah. Semboyan-semboyan seperti "Nenek Moyangku Orang Pelaut", "Kita Bangsa Bahari", "Jalasveva Jayamahe", dan "Indonesia Tanah Airku" merupakan wujud dari rasa keterikatan yang dalam kepada ranah bahari. Namun, masih sangat sedikit ilmuwan yang memiliki perhatian untuk mengeskplorasi dunia bahari Indonesia. Selain itu, pada umumnya studi tentang peran penting laut yang telah ada juga dilakukan ilmuwan asing. Ilmuwan kita sendiri lebih tertarik pada kajian terhadap berbagai aspek sosial, politik, budaya, dan ekonomi di tanah darat. Gusti Asnan, doktor lulusan Universitas Bremen, Jerman, tergerak mengisi kekosongan itu. Lingkup spasial studinya ialah pantai barat Sumatera. Pantai barat Sumatera yang dimaksudkannya adalah satu kesatuan daerah… Baca KelanjutannyaMengenang Kejayaan Pantai Barat Sumatera

Mengenang 100 Tahun Proklamator Bung Hatta

Mengenang 100 tahun proklamator kemerdekaan kita, Mohammad Hatta, 12 Agustus 1902-12 Agustus 2002, agaknya layak dilakukan seperti meninjau kembali hampir seluruh proses terbentuknya bangsa kita. Meninjau kembali berarti menilai ulang masa 100 tahun itu dengan pikiran warga negara merdeka. Tidak akan mengherankan bila tinjauan seperti itu menimbulkan kesadaran tentang betapa selama ini anggapan kita mengenai proses tersebut sarat dengan mentalitas rakyat jajahan. Berbeda dari kebanyakan rakyat jajahan, Hatta tidak terperangkap dalam hanya menolak atau menerima cita-cita itu. Sebaliknya, ia dengan sangat bebas memilih dari kehidupan sekitarnya apa yang dianggap perlu bagi diri sendiri dan masyarakatnya. Sikap bebas ini, khususnya rasa girangnya menjelajahi hidup, selama ini dikaburkan, seolah-olah itu merupakan cacat, diganti… Baca KelanjutannyaMengenang 100 Tahun Proklamator Bung Hatta

Tuanku Imam Bonjol, Dikenang dan Digugat

Selama 62 tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di ruang publik bangsa sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001. Tuanku Imam Bonjol (1722-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November 1973, adalah pemimpin utama Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1837) yang gigih melawan Belanda. Namun, baru-baru ini muncul petisi, menggugat gelar kepahlawanannya. Tuanku Imam Bonjol dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan “jutaan” orang didaerah itu. Kekejaman Paderi disorot dengan diterbitkannya buku MO Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela Gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah… Baca KelanjutannyaTuanku Imam Bonjol, Dikenang dan Digugat

Dibalik Istana Bung Hatta Di Bukit Tinggi

Banyak wisatawan berkunjung ke Kota Bukit Tinggi, sekitar 93 km utara Padang, Sumatera Barat, bertanya-tanya dan bahkan nyaris tak percaya tentang keberadaan Istana Bung Hatta, yang persis berada di depan Jam Gadang, trade mark-nya Bukit Tinggi. "Saya baru tahu, kalau di Bukittinggi ada Istana Bung Hatta. Apa dan bagaimana keberadaan istana tersebut, saya tidak tahu, kecuali tahu Bung Hatta, sebagai Wakil Presiden. Sejarah hampir tak pernah menyinggung-nyinggung soal keberadaan istana dan ada apa dengan Bung Hatta di Bukit Tinggi," kata Dianti (25), seorang mahasiswi asal Jakarta, Sabtu (3/8) di Bukit Tinggi. Kenyataan senada juga dikemukakan Sisilia, pelajar SMU asal Medan, Sumatera Utara, yang ditemui secara terpisah di Bukit Tinggi. "Keberadaan Istana… Baca KelanjutannyaDibalik Istana Bung Hatta Di Bukit Tinggi

Zubir Said

Zubir Said adalah pencipta lagu kebangsaan Singapura yaitu Majulah Singapura dan pencipta lagu Semoga Bahagia yang merupakan lagu resmi Hari Anak Singapura dan Festival Kaum Muda Singapura. Zubir Said dilahirkan pada tanggal 22 Juli 1907 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat dan meninggal di Joo Chiat Place, Singapura pada tanggal 16 November 1987 karena penyakit hati yang dideritanya. Zubir Said merupakan anak tertua dan memiliki 3 saudara laki-laki dan 5 saudara perempuan. Ibunya meninggal pada waktu Ia masih berusia 7 tahun. Zubir Said belajar musik dan memainkan alat musik suling, gitar dan drum secara otodidak. Meski sempat mengenyam pendidikan di sekolah belanda, Zubir Said lebih tertarik pada panggilan hatinya untuk bermain musik.… Baca KelanjutannyaZubir Said

Umar Ismail

Sutradara, seniman, dramawan, budayawan, wartawan, politikus dan penyair terkemuka ini selain dianggap sebagian pihak sebagai bapak perfilman Indonesia, Usmar Ismail juga adalah sosok pejuang multidimensional yang penuh warna. Karena jasa-jasanya bagi perfilman Indonesia, nama Usmar Ismail (1921-1971) diabadikan dalam Pusat Perfilman H. Usmar Ismail di Kuningan, Jakarta. Haji Usmar Ismail Mangkuto Ameh dilahirkan pada tanggal 20 Maret 1920 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat dan wafat di Jakarta pada tanggal 2 Januari 1971 karena pendarahan otak. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya di HIS Batusangkar, Sumatera Barat, Usmar Ismail yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara melanjutkan belajar ke MULO-B (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang tahun 1935-1939. Di sinilah Usmar Ismail mulai berkenalan… Baca KelanjutannyaUmar Ismail